Kalau diperhatikan, hampir semua hobi belakangan ini mengalami pola yang sama. Dulu orang lari ya karena suka lari, orang ngopi karena memang menikmati kopinya, orang naik gunung karena ingin menikmati alam. Sekarang semuanya terasa berubah menjadi sesuatu yang harus didokumentasikan dan dipublikasikan. Lari bukan lagi sekadar soal menyelesaikan jarak tertentu, tetapi juga soal pace, jam tangan olahraga, sepatu, dan unggahan di media sosial. Gym bukan hanya tempat berlatih, melainkan juga ruang untuk menunjukkan konsistensi, outfit, hingga gaya hidup. Bahkan hobi seperti fotografi, bersepeda, atau hiking pun seolah memiliki “paket lengkap” yang harus ditampilkan agar terlihat layak di mata publik.
Media sosial berperan besar dalam perubahan ini. Platform digital memberikan penghargaan kepada konten yang menarik perhatian, bukan kepada aktivitas yang paling bermakna. Akibatnya, orang lebih terdorong membagikan hasil akhir yang terlihat keren daripada proses panjang yang sebenarnya jauh lebih penting. Konten tentang total biaya mengikuti HYROX, koleksi sepatu lari, membership gym premium, atau perlengkapan bersepeda bernilai puluhan juta jauh lebih mudah mengundang komentar dibanding cerita tentang latihan yang konsisten selama bertahun-tahun. Lama-kelamaan, yang viral bukan lagi nilai dari hobinya, melainkan citra yang melekat pada hobi tersebut.
Bukan berarti setiap orang yang mengunggah aktivitasnya sedang mencari validasi. Banyak juga yang memang ingin berbagi pengalaman atau memberi informasi kepada orang lain. Namun, sulit dipungkiri bahwa media sosial telah mengaburkan batas antara berbagi dan membangun citra diri. Ketika seseorang memamerkan rincian biaya puluhan juta untuk sebuah kompetisi atau menunjukkan perlengkapan yang serba premium, akan selalu ada sebagian orang yang menganggap itu sebagai informasi, sementara sebagian lainnya menangkapnya sebagai bentuk status sosial. Kedua penafsiran tersebut sama-sama mungkin terjadi karena media sosial memang membuka ruang bagi berbagai persepsi.
Yang membuat fenomena ini semakin kuat adalah munculnya anggapan bahwa sebuah hobi harus didukung oleh perlengkapan terbaik agar dianggap serius. Padahal kenyataannya tidak demikian. Di dunia nyata justru sering ditemui orang-orang yang konsisten berolahraga selama bertahun-tahun tanpa perlengkapan mahal atau eksposur berlebihan. Mereka lebih fokus pada proses, kesehatan, dan peningkatan kemampuan daripada membangun citra sebagai “orang yang aktif”. Ironisnya, kelompok seperti ini justru lebih jarang muncul di linimasa karena kehidupan mereka tidak cukup sensasional untuk bersaing dengan algoritma media sosial.
Pada akhirnya, persoalan utamanya bukan terletak pada olahraga, ngopi, bersepeda, atau hobi apa pun. Yang berubah adalah cara kita memaknai hobi tersebut di era digital. Aktivitas yang dulu bersifat personal kini berubah menjadi identitas yang dipertontonkan kepada publik. Ketika sebuah hobi lebih sering digunakan untuk menunjukkan siapa diri kita daripada memberikan manfaat bagi diri sendiri, maka batas antara menikmati hobi dan membangun personal branding menjadi semakin tipis. Mungkin itulah alasan mengapa banyak orang merasa jenuh melihat tren-tren semacam ini. Bukan karena mereka membenci hobinya, melainkan karena mereka merindukan masa ketika sebuah hobi cukup dinikmati tanpa harus selalu dibuktikan kepada dunia.
